Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerukan ajakan tegas kepada seluruh elemen masyarakat untuk menghentikan segala bentuk eksploitasi terhadap anak, khususnya praktik mempekerjakan anak di bawah umur. Seruan ini disampaikan bertepatan dengan peringatan Hari Dunia Menentang Pekerja Anak pada Juni 2025.
“Anak usia di bawah 17 tahun seharusnya fokus belajar, bermain, dan mendapatkan kasih sayang, bukan bekerja,” ujar Khofifah, Sabtu (14/6).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, terdapat 1,56 persen anak usia 10–17 tahun di Jawa Timur yang menjadi pekerja anak. Meski angka ini lebih rendah dari rata-rata nasional sebesar 2,39 persen, Gubernur Khofifah menyebut kondisi ini tetap darurat dan butuh perhatian serius.
Ia menjelaskan bahwa di sektor formal, keberadaan pekerja anak sudah nyaris tidak ditemukan berkat sistem rekrutmen dan pengawasan ketat. Namun, di sektor informal seperti usaha kecil-menengah, industri rumah tangga, dan pekerjaan serabutan, anak-anak masih banyak ditemukan bekerja.
“Anak-anak yang masih duduk di bangku SD atau SMP seharusnya tidak dihadapkan pada realitas kerja kasar. Ini tanggung jawab kita semua untuk melindungi masa depan mereka,” tegasnya.
Khofifah mengungkapkan, banyak kasus pekerja anak ditemukan di sektor-sektor seperti perikanan, pekerja rumah tangga anak (PRTA), anak jalanan, industri rumahan, konstruksi bangunan, hingga eksploitasi seksual komersial anak (ESKA). Menurutnya, ini merupakan bentuk kekerasan sistemik yang harus dihentikan.
Pemerintah Provinsi Jawa Timur pun telah menyiapkan berbagai langkah penghapusan pekerja anak. Mulai dari pencegahan, penarikan anak dari tempat kerja, pemulihan lewat pendidikan dan afirmasi sekolah, hingga penguatan ekonomi keluarga agar tidak bergantung pada penghasilan anak.
“Kami tidak bisa berjalan sendiri. Perlu dukungan masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, dan seluruh pemangku kepentingan agar semua anak-anak kita bebas dari eksploitasi,” ujarnya.
Khofifah menekankan bahwa anak adalah amanah yang harus dijaga bersama. Jika mereka diberi ruang untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, maka Indonesia akan memiliki generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
“Segera laporkan jika melihat praktik pekerja anak. Ini demi masa depan bangsa yang lebih manusiawi dan berkeadilan,” tuturnya.

Leave a Reply